the aces

the aces
emblems

Rabu, 07 Desember 2011

Pemetaan Geologi

Peta geologi pada dasarnya merupakan suatu sarana untuk menggambarkan tubuh batuan, penyebaran batuan, kedudukan unsur struktur geologi dan hubungan antar satuan batuan serta merangkum berbagai data lainnya. Peta geologi juga merupakan gambaran teknis dari permukaan bumi dan sebagian bawah permukaan yang mempunyai arah, unsur-unsurnya yang merupakan gambaran geologi, dinyatakan sebagai garis yang mempunyai kedudukan yang pasti.

Peta geologi dibuat berdasarkan suatu peta dasar (peta topografi/rupabumi) dengan cara memplot singkapan-singkapan batuan beserta unsur struktur geologinya diatas peta dasar tersebut. Pengukuran kedudukan batuan dan struktur di lapangan dilakukan dengan menggunakan kompas geologi. Kemudian dengan menerapkan hukum-hukum geologi  dapat ditarik batas dan sebaran batuan atau satuan batuan serta unsur unsur strukturnya sehingga menghasilkan suatu peta geologi yang lengkap.
Peta Topografi dan Skala Peta

Peta adalah suatu penyajian pada bidang datar dari seluruh atau sebagian unsur permukaan bumi yang digambar dalam skala tertentu. Teknik yang dipakai untuk menggambarkan unsur ketinggian yang paling akurat dengan menggunakan metode garis kontur.
Garis kontur adalah suatu garis di peta yang mewakili hubungan garis imaginer (hayal) yang terdapat di permukaan tanah yang mempunyai ketinggian yang sama. Adapun sifat-sifat garis kontur adalah sebagai berikut:
1.    Garis kontur akan berpola seperti huruf V jika melalui suatu lembah atau sungai yang berada di daerah berelief tinggi, seperti hulu sungai.
2.    Garis kontur yang berada dekat bagian atas suatu puncak bukit akan berbentuk melingkar tertutup. Bagian puncak bukit adalah merupakan bagian tertinggi dari kontur yang membentuk lingkaran tertutup. 
3.    Garis kontur pada daerah yang berlereng landai dicirikan oleh spasi kontur yang renggang.
4.    Garis kontur pada daerah yang berlereng terjal dicirikan oleh spasi kontur yang rapat.
5.    Garis kontur dengan spasi yang teratur mewakili wilayah yang memiliki  lereng yang seragam
6.    Garis kontur tidak akan saling berpotongan satu dengan lainnya, kecuali jika berada di daerah lereng yang menggantung (overhanging).
7.    Perubahan arah kemiringan lereng selalu diperlihatkan dengan perulangan dari ketinggian yang sama seperti dua buah garis kontur yang berbeda dengan nilai ketinggian yang sama.
Peta topografi dikenal juga sebagai peta dasar (base maps) dan merupakan peta yang mendasari dalam pembuatan peta geologi. Sebagaimana diketahui bahwa peta dasar tidak saja diperlukan oleh para ahli geologi, namun juga diperlukan oleh para ahli teknik lainnya dan para teknisi serta para pelaksana dalam melaksanakan pekerjaannya atau melaksanakan suatu proyek pembangunan. Ketelitian suatu peta sangat ditentukan oleh Skala Peta. Skala peta adalah suatu perbandingan antara obyek yang terdapat di permukaan bumi dan di atas peta.

Dalam prakteknya, skala peta ditentukan oleh kebutuhan si pengguna. Untuk perencanaan teknis, seperti perencanaan gedung, saluran drainase, kontruksi bangunan dan pondasi bendungan, umumnya menggunakan skala peta yang besar, yaitu skala 1 : 500 ; 1 : 1.000, 1 : 2.000; atau 1 : 5.000.

Pada umumnya peta skala besar dibuat dengan cara pengukuran langsung di lapangan dengan menggunakan theodolite dan atau tenol sebagai alat ukur dalam pembuatan peta teknis dan peta skala besar bersifat detail serta memiliki ketelitian dan akurasi yang sangat tinggi.


Di Indonesia untuk memperoleh peta topografi / rupabumi yaitu dengan cara memesan atau membeli ke  lembaga yang memang bertugas menyediakan peta rupabumi. Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) adalah lembaga pemerintah yang fungsi dan tugasnya menyediakan peta rupabumi standar yang diperlukan oleh pengguna, baik sektor pemerintah maupun sektor swasta maupun perorangan. Adapun skala peta yang diterbitkan oleh Bakosurtanal pada umumnya adalah peta-peta berskala 1 : 10.000 (khusus untuk wilayah Jabotabek), sedangkan untuk pulau Jawa umumnya adalah peta-peta berskala 1 : 25.000 dan 1 : 50.000, sedangkan untuk Sumatra, Bali, Sebagian Kalimantan, Sebagian Sulawesi tersedia peta rupabumi berskala 1 : 50.000 dan wilayah-wilayah lainnya masih berskala 1 : 100.000 sampai skala yang lebih kecil lag

Pemetaan Geologi

Pemetaan geologi adalah suatu proses ilmiah yang bersifat interpretasi dan dapat menghasilkan berbagai jenis peta untuk berbagai macam tujuan, termasuk misalnya  untuk penilaian kualitas air bawah tanah dan resiko pencemaran, memprediksi bencana longsor, gempabumi, erupsi gunungapi, karakteristik sumberdaya mineral dan energi, manajemen lahan dan perencanaan tataguna lahan, dan lain sebagainya.

Informasi yang ada pada peta geologi sangat dibutuhkan bagi para pengambil kepurtusan, baik untuk keperluan sektor publik maupun swasta, seperti misalnya dalam penentuan rencana rute suatu jalan, sistem “cut and fill” pada pembutan jalan di medan yang berbukit-bukit. Peta geologi juga dipakai dalam “benefit-cost analysis” untuk memperkecil ketidak pastian dan potensi penambahan biaya.

Dalam pemetaan geologi, seorang ahli geologi harus mengetahui susunan dan komposisi batuan serta struktur geologi, baik yang tersingkap di permukaan bumi maupun yang berada di bawah permukaan melalui pengukuran kedudukan batuan dan unsur struktur geologi dengan menggunakan kompas geologi serta melakukan  penafsiran geologi, baik secara induksi dan deduksi yang disajikan diatas peta dengan menggunakan simbol atau warna.

Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi, seperti Sistem Informasi Geografi (SIG) maka aspek pemetaan geologi mengalami perubahan, yaitu dengan tersedianya piranti lunak (software) sebagai alat bantu yang memungkinkan ukuran (geometri) dan karakteristik dari suatu tubuh batuan dan kenampakan geologi lainnya disimpan secara elektronik (dalam format digital), ditelusuri, dianalisa, dan disajikan untuk berbagai keperluan. Dengan memanfaatkan teknologi SIG, memungkinkan para ahli melakukan analisa spasial, misalnya dalam mencari sebaran polusi yang mungkin terjadi disekitar suatu sumur bor didasarkan atas sifat sifat batuannya (porositas dan permeabiliatas), penentuan rute rencana jalan dengan menghindari wilayah wilayah yang rawan longsor dan daerah daerah yang lerengnya tidak stabil. SIG juga menyediakan peta-peta geologi dan fasilitas untuk keperluan analisa geologi bagi para pengguna, baik akhli geologi maupun yang bukan. 


Geologi Struktur

Topografi Regional

Kenampakan atau penggambaran segala kenampakan fisik dari roman muka dari daerah atau muka bumi,yangmeliputi bentuk ukuran, letak hubungan dan penyebarannya pada suatu daerah dalam dua dimensi, adapun topografi juga digunakan selain untuk keperluan geologi juga digunakan untuk keperluan tata kota, transmigrasi dan tekhnik sipil dan sebagainya.
Adapun cara menggambarkan relief yaitu :
v  Menggunakan Pewarnaan
v  Menggunakan Bayangan
v  Menggunakan Aliran
v  Menggunakan garis kontur
Dalam topografi juga dikenal istilah antara lain :
v  Interval kontur yaitu beda ketinggian tertentu antara dua garis kontur berbeda yang saling berurutan.
v  Kontur indeks yaitu kontur yang memiliki ketinggian tertentu { kelipatan tertentu dari interval kontur } sering digambarkan dengan garis tebal dan diberi angka yang menunjukkan ketinggian.


Statigrafi dan Litologi

Statigrafi adalah ilmu yang mempelajari tentang lapisan batuan dalam kerangka waktu dan ruang geologi.
Dasar hukum dalam mempelajari statigrafi yaitu :
ü  Super posisi
ü  Horizontatity
ü  Original Continuity

Sedimentasi dimulai dari permulaan tersier biasanya oligosin tetapi pada beberapa tempat { Kalimantan } dimulai pada eosin.Statigrafi di Kalimantan Timur tepatnya pada cekungan kutai, terdiri siklus transegrasi. Pada daerah ini  fasa regresi jauh, lebih mendominasi. Cekungan ini pada pada seluruh tersier tua, mungkin eosen, dengan suatu trasgesi yang segera diikuti oleh regrasi yang mengisi cekungan ini pada seluruh tersier dan kwater. Dalam daur regresi besar ini dapat dibedakan  antara formasi Pulau Balang, formasi Balikpapan dan formasi Kampung Baru yang berumur dari miosen sampai pliosen.
Penentuan statigrafi didasarkan pada tingkat kesegaran batuan serta hubungan antara satuan batuan. Dengan mempelajari aspek – aspek biostatigrafi  dan lithostatigrafi grafik maka kita akan dapat menyusun sejarah geologi suatu daerah yang kita pelajari atau kita selidiki,adapun kita juga mengetahui litologi batuan atau batuan penyusun yang terjadi pada daerah kita, sehingga menghasilkan kenampakan yang khas yang selanjutnya dikenal sebagai relief.

Geologi Struktur Regional

Keadan Geologi Stuktur mempelejari bentuk arsitektur kerak bumi beserrta gejala – gejala geologi yang menyebabkan terjadinya perubahan – perubahan bentuk { deformasi } pada batuan. Pada geologi struktur regional terdiri dari struktur Primer dan sruktur Sekunder.
Struktur primer adalah struktur yang terbentuk pada saat pembentukkan  batuan, seperti struktur sedimen pada batuan sedimen, sruktur aliran pada batuan beku dan dan struktur batuan foliasi pada batuan metamorf. Struktur sekunder adalah struktur yang terbentuk setelah proses pembentukkan batuan, terutama akibat adanya tegasan eksternal yang bekerja selama atau sesudah pembentukkan batuan. Bagian terbesar dari geologi struktur adalah contoh – contoh sekunder adalah kekar, sesar, dan lipatan.

Kekar (fracture) adalah struktur retakan/rekahan terbentuk pada batuan akibat suatu gaya yang bekerja pada batuan tersebut dan belum mengalami pergeseran. Secara umum dicirikan oleh: a). Pemotongan bidang perlapisan batuan; b). Biasanya terisi mineral lain (mineralisasi) seperti kalsit, kuarsa dsb; c) kenampakan breksiasi. Struktur kekar dapat dikelompokkan berdasarkan sifat dan karakter retakan/rekahan serta arah gaya yang bekerja pada batuan tersebut. Kekar yang umumnya dijumpai pada batuan adalah sebagai berikut:

  1. Shear Joint (Kekar Gerus) adalah retakan / rekahan yang membentuk pola saling berpotongan membentuk sudut lancip dengan arah gaya utama. Kekar jenis shear joint umumnya bersifat tertutup.
  2. Tension Joint adalah retakan/rekahan yang berpola sejajar dengan arah gaya utama, Umumnya bentuk rekahan bersifat terbuka.
  3. Extension Joint (Release Joint) adalah retakan/rekahan yang berpola tegak lurus dengan arah gaya utama dan bentuk rekahan umumnya terbuka.  
 Struktur Kekar atau Rekahan


Sesar adalah struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran. Umumnya disertai oleh struktur yang lain seperti lipatan, rekahan dsb. Adapun di lapangan indikasi suatu sesar / patahan dapat dikenal melalui : a) Gawir sesar atau bidang sesar; b). Breksiasi, gouge, milonit, ; c). Deretan mata air; d). Sumber air panas; e). Penyimpangan / pergeseran kedudukan lapisan; f) Gejala-gejala struktur minor seperti: cermin sesar, gores garis, lipatan dsb.

Berdasarkan pergeserannya, struktur sesar dalam geologi dikenal ada 3 jenis (gambar 7.6), yaitu: 1). Sesar Mendatar (Strike slip faults) ; 2). Sesar Naik (Thrust faults) ; 3). Sesar Turun (Normal faults).


Gambar 7.6    Gambar atas adalah blok diagram dari Sesar Naik (Reverse fault), Sesar  Mendatar (Striike slip fault), Sesar Normal (Dip-slip fault dan Oblique-slip fault).

  1. Sesar Mendatar (Strike Slip Fault) adalah sesar yang pergerakannya sejajar, blok bagian kiri relatif bergeser kearah yang berlawanan dengan blok bagian kanannya. Berdasarkan arah pergerakan sesarnya, sesar mendatar dapat dibagi menjadi 2 (dua) jenis sesar, yaitu: (1). Sesar Mendatar Dextral (sesar mendatar menganan)  dan (2). Sesar Mendatar Sinistral (sesar mendatar mengiri). Sesar Mendatar Dextral adalah sesar yang arah pergerakannya searah dengan arah perputaran jarum jam sedangkan Sesar Mendatar Sinistral adalah sesar yang arah pergeserannya berlawanan arah dengan arah perputaran jarum jam.  Pergeseran pada sesar mendatar dapat sejajar dengan permukaan sesar atau  pergeseran sesarnya dapat membentuk sudut (dip-slip / oblique). Sedangkan bidang sesarnya sendiri dapat tegak lurus maupun menyudut dengan bidang horisontal.
  2. Sesar Naik (Thrust Fault) adalah sesar dimana salah satu blok batuan bergeser ke arah atas dan blok bagian lainnya bergeser ke arah bawah disepanjang bidang sesarnya. Pada umumnya bidang sesar naik mempunyai kemiringan lebih kecil dari 450. 
  3. Sesar Turun (Normal fault) adalah sesar yang terjadi karena pergeseran blok batuan akibat pengaruh gaya gravitasi. Secara umum, sesar normal terjadi sebagai akibat dari hilangnya pengaruh gaya sehingga batuan menuju ke posisi  seimbang (isostasi). Sesar normal dapat terjadi dari kekar tension, release maupun kekar gerus  
Lipatan adalah deformasi lapisan batuan yang terjadi akibat dari gaya tegasan sehingga batuan bergerak dari kedudukan semula membentuk lengkungan. Berdasarkan bentuk lengkungannya lipatan dapat dibagi dua, yaitu a). Lipatan Sinklin adalah bentuk lipatan yang cekung ke arah atas, sedangkan lipatan antiklin adalah lipatan yang cembung ke arah atas.
Berdasarkan kedudukan garis sumbu dan bentuknya, lipatan dapat dikelompokkan menjadi :
1). Lipatan Paralel adalah lipatan dengan ketebalan lapisan yang tetap.
2). Lipatan Similar adalah lipatan dengan jarak lapisan sejajar dengan sumbu utama.
3). Lipatan harmonik atau disharmonik adalah lipatan berdasarkan menerus atau tidaknya sumbu utama.
4). Lipatan Ptigmatik adalah lipatan terbalik terhadap sumbunya
5). Lipatan chevron adalah lipatan bersudut dengan bidang planar
6). Lipatan isoklin adalah lipatan dengan sayap sejajar
7). Lipatan Klin Bands adalah lipatan bersudut tajam yang dibatasi oleh permukaan planar.

Disamping lipatan tersebut diatas, dijumpai juga berbagai jenis lipatan, seperti Lipatan Seretan (Drag folds) adalah lipatan yang terbentuk sebagai akibat seretan suatu sesar.